Pengamatan singkat di Hutan Lindung Gunung Sesean, Tana Toraja

kipasan sulawesi, endemic, bird, sulawesi, fan tailLiburan panjang di bulan Desember dimanfaatkan banyak orang untuk berlibur ke kampung halaman. Saya pun di musim liburan ini bertolak ke Tana Toraja untuk liburan, mengunjungi sanak keluarga sekaligus merencanakan pengamatan burung disana. Peralatan pendukung seperti: Kamera + lensa Telezoom, binocular, GPS, buku catatan, buku Panduan Lapangan (field guide), serta alat tulis juga sudah dipersiapkan.

Setibanya di sana, saya pun segera mengumpulkan informasi dari om dan tante saya serta penduduk setempat. Dandari infrmasi tersebut, saya memutuskan untuk melakukan pengamatan di   Hutan Lindung Gunung Sesean selama dua hari (3 – 4  Januari 2013). Udara sejuk pegunungan dan perkebunan kopi menjadikan Hutan Lindung Gunung Sesean merupakan salah satu lokasi favorit pencinta alam, baik yang ada di dalam maupun dari luar Toraja, sekedar untuk camping maupun berfoto dipuncaknya.

Pada waktu yang telah ditentukan,  saya bersama dua teman lainnya dari GMKI Balikpapan memulai perjalanan dengan mengambil titik start dari Desa Batutumonga, Kecamatan Sesean, Toraja Utara. Di awal perjalanan, beberapa jenis endemik Sulawesi yang berhasil kami amati seperti: Kancilan perut-kuning (Pachycephala sulfuriventer), Cabai panggul-kuning (Dicaeum aureolimbatum), dan Cabai panggul-kelabu (Dicaeum celebicum), juga beberapa jenis yang umum seperti: Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis), Burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), Bondol peking (Lonchura punctulata), dan Bondol rawa (Lonchura malacca). Vegetasi di awal perjalanan ini masih beragam namun masih di dominasi oleh rumpun-rumpun bambu dan tanaman kopi. Semakin ke atas vegetasi semakin di dominasi oleh pohon Pinus.

Semakin ke atas, pada ketinggian sekitar 1300 meter dari permukaan laut (m dpl), jenis-jenis burung yang teramati adalah Sikatan pulau (Eumiyas panayensis), Decu belang (Saxicola caprata), Kacamata Gunung (Zosterops montanus), Cekakak sungai (Todiramphus chloris), dan Uncal ambon (Macropygia amboinensis). Di ketinggian ini pula, saya berhasil menjumpai jenis burung endemic Sulawesi yang sangat cantik, yaitu Kipasan Sulawesi (Rhipidura teysmanni). Kecantikannya semakin memukau hati saya saat melihat dia membuka ekornya, persis seperti kipas. Namun yang membuat saya semakin bersemangat bercampur gugup saat berhasil menjumpai seekor burung Kacamata Makassar (Zosterops anomalus), jenis yang hanya dapat dijumpai di wilayah Sulawesi bagian Selatan. Ini adalah kali pertama bagi saya berjumpa dengan kedua jenis tersebut, sungguh menakjubkan.

Walik kuping merah, ptilinopus, red chick fruit dove, endemic, sulawesi,

Saat mencapai ketinggian 1700-an, saya dan teman – teman memutuskan untuk mendirikan tenda, apalagi waktu sudah menunjukan pukul 16.00 dengan kondisi berkabut. Setelah memasang tenda dan menikmati secangkir kopi, di tengah kabut saya melihat sepasang Walik kuping-merah (Ptilinopus fischeri) yang sedang duduk diam di dahan pohon.

Keesokan harinya, pukul 06.00, saya mulai melakukan pengamatan hingga ketinggian 1900-an.  Jenis – jenis  burung yang teramati  adalah Serindit Sulawesi (Loriculus stigmatus), Caladi Sulawesi (Dendrocopos temminckii), Burung Madu Sepahraja (Aethopyga siparaja), Sikatan dahi-biru (Cyornis hoevelli), Sikatan matari (Culicicapa helianthea), dan Cinenen gunung (Orthotomus cuculatus). Namun yang membuat saya tertegun saat menyaksikan fenomena hadirnya jenis-jenis elang dalam jumlah yang  banyak di waktu yang bersamaan. Kurang lebih 1 jam (09.00 – 10.00), sekitar lebih dari 50 ekor elang muncul secara bersamaan mengitari langit di atas tenda kami. Dari kumpulan burung pemangsa (raptor) tersebut berhasil teridentifikasi beberapa jenis elang seperti: Elang paria (Milvus migran), Elang Bondol (Haliastur indus), dan 2 jenis Elang endemic Sulawesi yaitu Elang Sulawesi (Nisaetus lanceolatus) serta Elang Ular Sulawesi (Spilornis rufipectus).  Rasanya semakin komplit saja perwakilan jenis yang berhasil saya amati kali ini.

milvus migran, kite, black kite, raptor, elang, burung pemangsa, sulawesiPotensi wisata Tana Toraja sebenarnya sangat besar dan tidak hanya terbatas pada wisata budaya saja, tapi potensi alam seperti mengamati burung di alam juga dapat dijadikan wisata yang dapat memberikan keuntungan bagi masyarakatjika dikelola dengan baik.

Penulis

Alfons Patandung

Perkumpulan Celebes Biodiversity (CELEBIO)

 

 

Tags: , , , ,

3 comments

  1. Riady Bakri
  2. yus

Trackback e pingback

No trackback or pingback available for this article

Leave a Reply to Riady Bakri Cancel reply